Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat (25/9/2026) memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah utara India serta Nepal. Bencana ini menewaskan puluhan orang dan merusak ribuan bangunan dalam tiga hari terakhir, menurut laporan sejumlah media internasional yang mengutip otoritas setempat.

Kerusakan Parah di Uttar Pradesh

Komisaris Bantuan Negara Bagian Uttar Pradesh, Hrishikesh Bhaskar Yashod, menyebut sedikitnya 56 orang tewas dan 46 lainnya terluka di wilayah tersebut. Lebih dari 1.000 bangunan turut mengalami kerusakan akibat terjangan air dan material longsor.

Curah hujan di Uttar Pradesh tercatat mencapai 66,5 milimeter dalam rentang 25 hingga pagi 27 September, jauh melampaui rata-rata musiman yang biasanya berkisar 7,6 milimeter. Lonjakan ini dipicu fenomena depresi atmosfer di Teluk Benggala yang bergerak ke daratan.

Otoritas setempat meminta warga dan pengunjung di Kota Rishikesh menjauhi Sungai Gangga menyusul kenaikan permukaan air ke level berbahaya. Pemerintah India juga memerintahkan pendataan kerusakan lahan pertanian guna menyiapkan skema kompensasi bagi petani terdampak.

Situasi Berbeda-beda di Nepal

Di Nepal, jumlah korban jiwa dilaporkan berbeda antarmedia. Reuters mencatat 14 orang tewas dan 11 lainnya masih hilang, sementara AFP mengutip juru bicara National Disaster Risk Reduction and Management Authority Nepal, Shanti Mahat, yang menyebut 12 orang meninggal sejak Kamis (24/9) dengan 7 orang masih dinyatakan hilang.

“Sejak Kamis, 12 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana yang dipicu hujan deras seperti banjir dan tanah longsor.”

— Shanti Mahat, Juru Bicara National Disaster Risk Reduction and Management Authority Nepal

Otoritas Nepal memperingatkan potensi banjir bandang susulan di 49 dari total 77 distrik di negara itu, seiring naiknya debit air sungai-sungai utama dan anak sungai. Wilayah Rasuwa dan Nuwakot, yang bulan lalu dilanda banjir mematikan hingga menewaskan lebih dari 1.450 orang dengan ribuan lainnya masih hilang, diminta tetap waspada meski saat ini belum masuk kategori berisiko tinggi.

Gangguan Infrastruktur dan Insiden Terpisah

Banjir juga memutus total pasokan listrik di Distrik Manang, Mustang, Myagdi, dan Baglung, menurut Kementerian Energi Nepal. Menteri Sumber Daya Air dan Energi Nepal, Biraj Bhakta Shrestha, menyebut banjir Sungai Rahuganga merusak struktur dan menara transmisi proyek pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 40 megawatt.

Jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah Nepal juga terganggu akibat kerusakan serat optik dan pasokan listrik, menurut Menteri Komunikasi Bikram Timilsinha. Sementara itu, Central Water Commission India melaporkan 30 stasiun pemantauan di tujuh negara bagian berada dalam kondisi parah, dengan sungai-sungai besar seperti Gangga, Gandak, Kosi, Bagmati, dan Narmada melampaui level bahaya.

Dalam insiden terpisah, 10 pekerja lokal dilaporkan hilang setelah longsoran salju menimbun base camp Gunung Himlung Himal setinggi 7.126 meter di Distrik Manang. Para pekerja tengah mendirikan tenda untuk pendaki asing ketika longsoran terjadi, meski tidak ada pendaki asing di lokasi saat kejadian.

Dampak di Wilayah Lain India

Di negara bagian Odisha, India timur, luapan sungai-sungai utama memaksa lebih dari 70 ribu warga di dataran rendah mengungsi, menurut laporan NDTV. Kerusakan pada jembatan dan gorong-gorong juga membuat pemerintah menutup sementara kawasan wisata Devkund untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.

Uttar Pradesh sendiri dihuni lebih dari 240 juta jiwa, sehingga bencana ini berpotensi berdampak luas terhadap masyarakat dan sektor pertanian di wilayah tersebut. Para ilmuwan disebut telah berulang kali memperingatkan peningkatan signifikan frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Asia Selatan akibat perubahan iklim.