Sekitar 980 warga Bangkok, Thailand, dievakuasi ke penampungan sementara akibat banjir yang terus meluas, menurut laporan yang terbit Sabtu (26/9/2026). Pada saat bersamaan, warga ramai memborong bahan pangan di minimarket sehingga sejumlah rak kosong.
Okezone, yang mengutip TRT World, melaporkan bahwa lokasi penampungan disiapkan pemerintah dan sebagian memakai fasilitas sekolah. Pemerintah Bangkok juga menyalurkan bantuan serta menjamin karung pasir tersedia untuk menahan genangan yang kian luas.
Evakuasi warga dan pasien di Bangkok
Petugas juga memindahkan puluhan pasien dari fasilitas kesehatan yang terkena banjir. Pemindahan itu dilakukan sebagai antisipasi karena situasi belum sepenuhnya stabil.
Bagi pasien yang memerlukan alat medis untuk bertahan, otoritas menyarankan agar mereka mempertimbangkan tetap dirawat di rumah sakit sampai keadaan aman.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyatakan banjir mulai stabil. Meski begitu, bila hujan reda, air diperkirakan baru benar-benar surut setelah sekitar dua hingga tiga hari. Warga diminta lebih waspada dan mengurangi kegiatan di luar rumah.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memangkas lawatannya ke Inggris. Ia kembali ke negaranya untuk memantau langsung upaya penanganan banjir.
Status daerah bencana di 50 distrik
Menurut CNN Indonesia yang merujuk pada pemberitaan The Nation, banjir ini dipicu hujan deras yang mengguyur Bangkok tanpa henti lebih dari 30 jam, dimulai Jumat (25/9) dini hari.
Sejak 25 September, Chadchart memperluas status daerah bencana. Awalnya status itu hanya berlaku di tiga distrik, yakni Nong Chok, Suan Luang, dan Khan Na Yao. Kini seluruh 50 distrik masuk cakupan, dan Otoritas Metropolitan Bangkok (BMA) menetapkan semuanya sebagai kawasan terdampak.
Status darurat tersebut memberi lembaga pemerintah kewenangan penuh untuk menggerakkan bantuan dan menangani bencana dengan lebih cepat.
Warga borong pangan, pemerintah pantau harga
The Nation melaporkan bahwa aksi borong memuncak setelah seluruh distrik ditetapkan sebagai kawasan terdampak. Antrean pembeli terlihat di berbagai gerai ritel modern, salah satunya 7-Eleven. Seorang karyawan gerai menyebut kenaikan jumlah pembeli mulai terasa sejak Jumat sore dan berlanjut sampai Sabtu pagi.
Stok makanan siap saji, makanan kering, susu, telur, beras, dan air kemasan cepat habis. Warga cemas genangan akan menutup akses transportasi lalu menimbulkan kelangkaan pangan. Toko akhirnya memesan pasokan tambahan yang dijadwalkan datang bertahap, siang dan malam.
“Sebagian besar warga membeli makanan siap saji, makanan instan, minuman, telur, dan beras. Salah satu alasannya kemungkinan karena mereka khawatir akan banjir dan takut tidak memiliki cukup makanan.”
— Karyawan 7-Eleven di Bangkok
Menanggapi kecemasan warga, Suphajee Suthumpun, yang menjabat wakil perdana menteri merangkap menteri perdagangan, memerintahkan semua instansi terkait mengawasi ketat pasokan dan kestabilan harga kebutuhan pokok.
Pemerintah setempat bekerja sama dengan jaringan grosir dan pengecer agar distribusi barang ke daerah terdampak lebih lancar. Pemerintah juga memperingatkan akan bertindak tegas terhadap penimbunan dan permainan harga.


