Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan pemerintah akan membuka lahan baru untuk memenuhi kebutuhan bahan baku program bahan bakar minyak campuran etanol 20 persen atau E20. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurut Zulkifli, yang akrab disapa Zulhas, pembukaan lahan baru itu dikhususkan untuk tebu, bahan baku gula sekaligus etanol. Ia menilai jumlah kebun tebu saat ini belum mencukupi.

“Kalau sekarang kan kurang kan, jadi kalau kita mau tebu ya harus buka kebun baru”

— Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan

Bahan baku etanol dan kebutuhan lahan

Zulhas menyebut bahan baku etanol tidak terbatas pada tebu. Singkong dan komoditas lain juga dapat dipakai. Menurut CNBC Indonesia, penambahan lahan dimaksudkan agar pemanfaatan bahan bakar nabati tidak mengganggu pasokan gula nasional.

Menurut Zulhas, lahan tahap pertama untuk tebu seluas 2 juta hektare. CNBC Indonesia menulis lahan itu berada di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Jawa. Zulhas menyebut lahan sebagai kendala. Namun, setelah pemetaan oleh BUMN dan Menteri Pertanian, ia menyebut kemungkinan angka tersebut bisa dipenuhi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam pernyataan terpisah, menyampaikan rencana pembukaan lahan baru 1 juta hingga 2 juta hektare untuk tiga komoditas: tebu, singkong, dan jagung. Menurut Amran, kebutuhan terbesar ada pada tebu, sekitar 1 juta hektare. Angka Amran itu berbeda dari angka 2 juta hektare khusus tebu yang disebut Zulhas, dan sumber tidak menjelaskan selisihnya. Pemerintah juga akan memberi dukungan alat dan mesin pertanian serta uji coba penanaman jagung di sejumlah daerah.

Target waktu dan pembiayaan pabrik

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas soal implementasi E20 pada Rabu malam (16/9/2026). Usai rapat, ia menyampaikan harapan agar produksi E20 dapat dicapai dalam dua tahun.

“Ratas dipimpin bapak presiden langsung kita membahas agar 2 tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20”

— Prabowo Subianto, Presiden RI

Zulhas pun menyebut tenggat dua tahun. Menurut dia, pemerintah harus bekerja keras agar mampu menghasilkan E20 dalam waktu itu, mengingat perkembangan dunia saat ini. CNBC Indonesia menulis program ini ditargetkan berjalan pada 2028.

Menurut Zulhas, dalam rapat itu Presiden meminta Mentan menyiapkan rencana penyediaan lahan, sedangkan BPI Danantara diminta menyiapkan industri pengolahan. Adapun soal pembiayaan, Amran menyebut skema pembangunan pabrik etanol masih dihitung. Dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Senin (21/9), ia mengatakan anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari swasta. Pemerintah mengutamakan kemampuan BUMN lebih dahulu, lalu membuka kekurangannya bagi swasta.

Transisi energi dan arah jangka panjang

Dalam paparannya, Zulhas menyebut Indonesia sudah menjalankan biodiesel B50, dan menyatakan Bahlil dalam tempo lima tahun akan menuju E20. JPNN juga menulis Indonesia akan meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk E20, dalam lima tahun ke depan. Jadi, ucapan lima tahun muncul dalam paparan Zulhas dan laporan JPNN, di samping tenggat dua tahun yang ia sebut dalam keterangan terpisah.

Zulhas menilai pengembangan energi terbarukan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membuka lapangan kerja baru. Ia menambahkan agenda ini harus tetap memperhatikan ketahanan pangan dan perlindungan lingkungan. Pemerintah juga disebut tengah membangun pasar karbon yang kredibel dan transparan sebagai pintu pembiayaan internasional.

“E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50 seperti B50, tapi yang pertama ini E20. Jangka panjang akan menuju E50”

— Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan