Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Senin, 28 September 2026. Rupiah dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.948 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.903. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut pelemahan ini dipengaruhi kombinasi data ekonomi Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi, harga minyak dunia, serta perkembangan negosiasi Iran-AS.
Apa yang Terjadi pada Rupiah
Mengutip data Bloomberg, Katadata mencatat pelemahan rupiah bahkan berlanjut hingga menyentuh Rp17.965 per dolar AS atau turun 0,35 persen pada pukul 09.45 WIB. Sebelumnya, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang dikutip VIVA, rupiah sudah berada di posisi Rp17.917 per dolar AS pada Jumat, 25 September 2026, turun 19 poin dari Rp17.898 pada Kamis sebelumnya.
Faktor Penyebab Pelemahan Menurut Analis
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat, serta penolakan proposal Iran oleh AS.”
— Lukman Leong, Analis Doo Financial
Data yang dimaksud adalah penjualan barang tahan lama AS yang tercatat stagnan di angka nol persen, padahal pasar memperkirakan penurunan 0,4 persen. Katadata mencatat, dari data Reuters, pesanan barang modal inti melonjak 1,6 persen pada Agustus, jauh melampaui ekspektasi ekonom sebesar 0,5 persen, sementara angka Juli direvisi naik menjadi 0,6 persen. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa perekonomian AS masih memiliki momentum kuat.
Pekan sebelumnya, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen, kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Soal peluang kenaikan lanjutan pada pertemuan Oktober, terdapat dua estimasi dari sumber berbeda: Republika, mengutip perangkat CME FedWatch, melaporkan peluangnya naik menjadi sekitar 70 persen dari 50 persen di awal pekan, sementara Katadata mencatat angka peluang tersebut di kisaran 68,6 persen. Variasi kecil ini kemungkinan berasal dari waktu pengambilan data yang tidak persis sama.
Faktor lain yang turut menekan rupiah adalah penolakan Presiden AS Donald Trump atas proposal terbaru Iran yang disampaikan dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini. Republika melaporkan bahwa Teheran sebelumnya mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis serta dimulainya lagi pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu, sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut, penghapusan sanksi penjualan minyak Iran, dan pemulihan gencatan senjata di kawasan.
Baca jugaTrump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz, Teheran Klaim Siap Kembali Berperang
Mata Uang Asia Lain Turut Tertekan
Katadata mencatat pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin tersebut, dengan baht Thailand turun 0,46 persen, ringgit Malaysia 0,21 persen, yen Jepang 0,28 persen, won Korea Selatan 0,31 persen, yuan Cina 0,04 persen, peso Filipina 0,02 persen, dan dolar Singapura 0,08 persen.
Tanggapan Pengamat dan Respons Pemerintah
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai ekonomi global sedang dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak. Menurutnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengingatkan seluruh pemangku kepentingan dunia mengenai kondisi ekonomi global yang berpotensi semakin tertekan.
“Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari 2026.”
— Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang
Ibrahim menjelaskan, kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun kebijakan itu juga meningkatkan beban bunga utang pemerintah, sehingga berpotensi mempersempit ruang fiskal untuk memberikan stimulus jika harga energi kembali melonjak.
Guna meredam tekanan pada rupiah, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia disebut berkolaborasi lewat lima langkah, meliputi optimalisasi pertumbuhan ekonomi lewat sinergi kebijakan fiskal-moneter, penguatan sektor eksternal untuk menahan gejolak perdagangan dan arus modal asing, pengelolaan likuiditas di pasar uang dan perbankan, penguatan koordinasi pengendalian inflasi melalui TPIP dan TPID, serta percepatan pendalaman pasar keuangan.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.


