Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga di level 5,75%, menurut laporan CNBC Indonesia. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan pertimbangan kebijakan bank sentral dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (28/9/2026), termasuk upaya menjaga rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Destry, BI mengemban mandat menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Ia menilai memadukan dua tujuan itu tidak mudah.
Pertimbangan di balik suku bunga 5,75%
Destry menjelaskan bahwa inflasi menjadi jangkar kebijakan moneter. Ia menyebut BI melakukan asesmen dan analisis uji ketahanan (stress analysis) untuk melihat dampak kenaikan BI Rate maupun pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan.
Berdasarkan asesmen pada Agustus, kenaikan suku bunga 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi 0,1 poin persentase, dengan asumsi faktor lain tetap.
“Kalau BI rate naik 25 basis point atau 0,25%, maka pertumbuhan ekonomi itu akan turun 0,1% percentage point. Jadi misalnya ekonomi growth-nya 5,4%, dia jadi (turun) 5,3% menurut assessmen kami bulan Agustus kemarin”
— Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia
BI juga menilai inflasi domestik masih terkendali. Inflasi inti berada di sekitar 2%, sedangkan inflasi umum tercatat 3,19%. Menurut BI, kenaikan inflasi lebih dipengaruhi harga pangan bergejolak, bukan tekanan permintaan dalam negeri.
Karena itu, BI menilai pengendalian inflasi pangan tidak cukup lewat suku bunga dan perlu melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta otoritas terkait.
Konteks global dan kerentanan rupiah
CNBC Indonesia melaporkan, inflasi dunia meningkat akibat gejolak geopolitik yang mendorong harga minyak mentah. Bank sentral AS, The Fed, disebut menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada September 2026. BI, menurut laporan itu, lebih berhati-hati karena sudah menaikkan suku bunga 100 basis poin pada periode Mei-Juni.
Baca jugaRupiah Melemah ke Rp17.948, Analis Perkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.900-Rp18.000
Dalam rapat yang sama, Destry menguraikan mengapa rupiah kerap rentan terhadap dolar AS. Salah satu faktor yang ia soroti adalah transaksi berjalan Indonesia yang secara historis lebih sering defisit.
“Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, di mana pada saat itu economic activity-nya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan”
— Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia
Menurut Destry, kerentanan itu idealnya diimbangi aliran modal masuk jangka panjang dan permanen, misalnya investasi langsung asing (FDI). Ia mengakui menarik modal jenis itu masih menjadi tantangan bagi Indonesia.
Bauran kebijakan yang disiapkan BI
Untuk menjaga stabilitas tanpa menekan pertumbuhan, BI menerapkan bauran kebijakan yang tertarget, mulai dari insentif hingga pendalaman pasar uang. BI juga berkolaborasi dengan otoritas terkait di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Destry mengatakan BI berusaha memakai seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki karena mandat bank sentral bertambah. Sumber yang dirujuk tidak merinci bentuk insentif tersebut.



