Aksi pelajar di Prancis makin keras. Pada Jumat (2/10/2026), aparat antihuru-hara berbenturan dengan para siswa SMA di beberapa kota, dan serikat pekerja mengajak guru ikut mogok. Situasi ini menjadi ujian baru bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan kepada TF1 bahwa sekitar 5.000 orang telah diamankan polisi sejak Senin, kebanyakan remaja. Menurut CNBC Indonesia yang merujuk Reuters, 400 sekolah menengah, atau kira-kira satu dari 10, tidak beroperasi pada Jumat karena alasan keamanan.

Bentrokan di sejumlah kota

Gas air mata memenuhi jalanan Strasbourg. Di Marseille, massa mengarahkan kembang api ke barisan aparat, sedangkan di Rennes tempat sampah dibakar. Di Pantin, kawasan pinggiran Paris, pagar dan beberapa benda lain dibakar, lalu petasan dilemparkan ke arah polisi sebelum pelakunya kabur.

Di La Ciotat, dekat Marseille, seorang remaja dilaporkan menyiramkan bensin ke arah seorang guru, kata juru bicara otoritas pendidikan setempat. Reuters menyatakan belum bisa memastikan sendiri kebenaran rekaman yang disiarkan BFM TV.

Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut 65 tenaga pendidikan terluka selama kerusuhan, termasuk 40 kepala sekolah. Ia juga meminta orang tua menahan anak-anak mereka agar tidak ikut turun ke jalan.

Angka penangkapan berbeda antarlaporan

Okezone memuat angka yang lebih kecil untuk rentang waktu yang lebih pendek. Menurut laporan itu, 1.949 orang ditahan pada Kamis (1/10/2026), naik dari 625 orang sehari sebelumnya, dan kementerian mencatat 305 polisi serta gendarme terluka. Angka itu hanya untuk satu hari, sedangkan perkiraan Nunez sekitar 5.000 dihitung sejak Senin.

Hari itu, pelajar dan mahasiswa ikut turun bersama pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, awak transportasi, dan pegawai negeri lainnya yang sedang mogok. Okezone melaporkan mereka menuntut tambahan guru pengganti dan lingkungan belajar yang lebih baik. Geffray menilai gerakan pelajar telah disandera kelompok-kelompok kekerasan.

Tuntutan pelajar dan anggaran pendidikan

Para pelajar memblokade sekolah karena keluhan harian: ruang kelas sesak, guru kurang, dan bangunan sekolah yang kondisinya buruk. Mereka menilai semua itu berpangkal pada kurangnya investasi selama bertahun-tahun.

“Kami berjumlah 35 orang dalam satu kelas, kami tidak memiliki cukup kursi di ruang kelas, waktu istirahat makan siang satu jam (terlalu singkat) bagi semua orang untuk mendapatkan makanan,”

— Kesia, pelajar berusia 15 tahun

Rancangan anggaran 2027, yang dipaparkan pemerintah pada Kamis, mengusulkan kenaikan anggaran pendidikan sebesar 1,7% menjadi 65,53 miliar euro, di luar dana pensiun guru. Karena bunga utang diproyeksikan menyentuh 74,5 miliar euro, pendidikan diperkirakan kehilangan posisi sebagai pos belanja terbesar tahun depan.

Tudingan politisasi dan dugaan kekerasan polisi

Sumber di lingkaran perdana menteri menilai gerakan ini sudah bergeser dari protes menjadi kekerasan di perkotaan. Menteri Kehakiman Gerald Darmanin mengatakan gerakan tersebut telah dibajak "orang luar". Badan intelijen Prancis menyebut awalnya gerakan ini digerakkan politisi partai sayap kiri France Unbowed (LFI), tetapi sejumlah anggota parlemen senior LFI membantahnya dan menuduh pemerintah memolitisasi aksi menjelang pemilu.

Beberapa kelompok hak asasi manusia menuduh aparat bertindak keras terhadap pelajar di bawah umur, termasuk dengan pentungan, gas air mata, dan peluru karet. Nunez mengatakan Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional membuka tiga penyelidikan atas insiden yang melukai pelajar. Dalam satu kasus, jaksa menyatakan, menurut RFI, bahwa seorang pemuda di Tours mengalami cedera kepala akibat proyektil dari senjata polisi nonmematikan.

Apa selanjutnya

Serikat pekerja mengajak guru mogok pada Selasa mendatang, hanya sepekan setelah pekerja sektor publik berhenti bekerja. Gejolak ini muncul kira-kira enam bulan sebelum pemilihan presiden berikutnya, ketika sejumlah jajak pendapat terus menunjukkan rendahnya popularitas Macron dan pemerintahannya.