Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menguji penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sejumlah sekolah. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan hal itu pada Selasa (13/10/2026) saat berkunjung ke SD Negeri Cot Meuraja, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Bila uji coba lancar, BGN menargetkan 1.000 hingga 5.000 dapur memakai cara ini sampai akhir tahun.
Apa itu MBG prasmanan dan seberapa luas uji cobanya
Dalam sistem prasmanan, makanan tidak dibagikan dalam wadah individual yang sudah terisi, melainkan disajikan sehingga siswa dapat mengambil sendiri dan, bila masih tersedia, menambah porsi. Menurut Sudaryono, makanan kemudian dibawa ke kelas dalam keadaan hangat.
Menurut Sudaryono, sebanyak 62 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), atau dapur MBG, sudah mengikuti uji coba. Investor Daily mencatat jumlah itu berasal dari total 26.385 SPPG di seluruh Indonesia. Lokasinya mencakup Merauke, Pulau Madura, Jawa, dan Riau, menurut Suara.com dan Investor Daily.
Uji coba direncanakan berjalan dua pekan. Tujuannya mengevaluasi manfaat sekaligus mengidentifikasi kendala di lapangan, sebagaimana dilaporkan Investor Daily. Suara.com menyebut baru 62 SPPG yang telah mengikuti MBG prasmanan. Dengan hitungan redaksi, angka itu berarti 62 dari 26.385 SPPG, atau sebagian kecil dari seluruh dapur.
Target 1.000 sampai 5.000 dapur hingga akhir tahun
Sudaryono menjelaskan bahwa perluasan bergantung pada hasil uji coba. Jika tidak muncul masalah yang signifikan, BGN berencana mendorong paling tidak 1.000 sampai 5.000 dapur menjalankan MBG secara prasmanan sebelum tahun berakhir. Sumber-sumber yang ada tidak merinci daftar dapur atau sekolah sasaran tahap berikutnya.
Penerapannya, menurut Investor Daily, dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan dapur dan sekolah. Sudaryono juga berharap hasil uji coba menjadi acuan bagi dapur dan sekolah lain. Suara.com menyebut metode ini diklaim sebagai cara meningkatkan kualitas pengalaman makan siswa, sekaligus mendorong edukasi kebiasaan makan dan pembentukan karakter di sekolah.
Baca jugaBGN Tutup Permanen Dua Dapur MBG di Semarang dan Batang, 4.965 Penerima Manfaat Dialihkan
Keunggulan yang diklaim BGN
Sudaryono menyebut tingkat makanan yang dikonsumsi relatif tinggi pada sistem ini, sehingga sajian cenderung habis. Siswa yang masih ingin menambah dapat melakukannya selama makanan tersisa. Makanan yang dibawa ke kelas dalam kondisi hangat, katanya, terasa lebih segar dan lebih enak. Investor Daily menambahkan, sistem ini dinilai dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam makan bersama.
Sistem ini juga melibatkan siswa dalam pelayanan melalui piket bergiliran yang dikelola sekolah. Sudaryono menegaskan bahwa hal itu bukan untuk menggantikan tenaga kerja petugas, melainkan bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran saat mengantre, dan kepedulian terhadap teman.
“Ini bagian dari edukasi bagaimana siswa itu ikut melayani temannya. Di banyak kegiatan makan siang di sekolah, di banyak negara, siswa secara piket ikut terlibat. Di situ ada mengantre, ada melayani, ada belajar sabar. Ini bagian dari pendidikan”
— Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional
Tantangan: kesiapan dapur, sekolah, dan fasilitas
Sudaryono mengakui keberhasilan prasmanan menuntut kesiapan semua pihak. Menurutnya, dapur dan sekolah sama-sama perlu dilatih. BGN akan memulai dari dapur yang mampu dan mau, serta sekolah yang bersedia, mampu, dan siap dibantu.
Dari sisi sekolah, Kepala SDN Cot Meuraja, Elliyana, menjelaskan bahwa sekolahnya masih memakai ompreng, yakni wadah makan individual, dan belum pernah mencoba prasmanan. Karena itu ia belum dapat membandingkan efektivitas kedua cara. Ia menilai prasmanan berpotensi memudahkan pembagian, tetapi menyoroti soal ruang.
“Prasmanan memang lebih memudahkan, tetapi untuk anak-anak SD, apalagi kelas 1, mungkin agak sulit. Kalau prasmanan, harus ada ruangan besar untuk tempat makan. Sementara di sekolah kami, lahannya sudah tidak tersedia lagi kalau harus membangun ruang makan yang besar”
— Elliyana, Kepala SD Negeri Cot Meuraja, Aceh Besar
Gambaran pelaksanaan MBG di sekolah Aceh Besar
Elliyana menyebut pengiriman MBG di sekolahnya saat ini tidak menghadapi kendala besar. Makanan biasanya tiba sekitar pukul 06.10 WIB dan siswa dapat makan pukul 07.00 WIB. Dua petugas membantu membagikan makanan, terutama untuk siswa kelas 1, 2, dan 3, sementara guru mengawasi di kelas.
Menu bervariasi. Nasi lebih sering disajikan pada Senin hingga Kamis, sedangkan hari Jumat biasanya berisi makanan ringan. Menurut Elliyana, ayam menjadi menu favorit siswa, dan permintaan itu disampaikan sekolah kepada kepala SPPG yang menanggapinya secara positif.
Ia juga mengamati sebagian anak lebih termotivasi hadir ke sekolah karena ada makanan yang diberikan. Program itu, katanya, sangat membantu anak yang tidak memiliki orang tua. Data siswa dan guru diperbarui berkala, terutama di awal tahun ajaran, dan sekolah langsung menghubungi kepala SPPG bila jumlah penerima berubah. Komunikasi dengan pengelola dapur, menurutnya, berjalan baik.
Apa selanjutnya
Setelah masa uji coba dua pekan, BGN akan menilai apakah ada masalah signifikan. Hasil evaluasi itulah yang menentukan apakah metode diperluas menuju target akhir tahun. Investor Daily mencatat BGN juga menyatakan akan melanjutkan perluasan layanan MBG, terutama ke wilayah yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
Dalam laporan yang sama, kesiapan fasilitas sekolah, ketepatan data penerima manfaat, dan pengawasan kualitas makanan disebut sebagai aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program ke depan.



