Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan status suspend kategori berat kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dan mencopot kepala SPPG-nya. Langkah itu diumumkan Kamis (24/9/2026) setelah ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengeluhkan gangguan kesehatan.

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana menyampaikan hal tersebut di Jakarta. Ia menyebut keselamatan penerima manfaat sebagai prioritas utama dan memastikan para korban ditangani dengan baik serta terus dipantau.

Temuan awal pelanggaran SOP di dapur SPPG Bawang

Menurut Ketut, pemeriksaan awal menemukan sejumlah ketidakpatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP). Salah satunya, telur diolah lebih awal, yaitu pukul 19.30 WIB, kemudian dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB.

BGN juga mencatat kondisi kebersihan di beberapa bagian dapur yang perlu diperhatikan. Ketut menegaskan temuan itu masih bagian dari investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir soal penyebab kejadian.

Selain pelanggaran oleh dapur, Ketut menilai tindakan penerima manfaat yang membawa pulang sebagian makanan juga tergolong pelanggaran berat. BGN akan mengevaluasi menyeluruh dan berinvestigasi bersama Dinas Kesehatan.

Baca jugaDugaan Keracunan MBG di Batang: Korban Capai 411 Orang, Polres Mulai Selidiki Penyebab

Jumlah korban dan penanganan medis

Data korban berbeda antarsumber karena pendataan masih berjalan. Menurut laporan yang dikutip BGN, hingga Kamis pukul 03.00 WIB tercatat 219 orang terdampak, terdiri atas 132 rawat inap dan 87 rawat jalan di tujuh fasilitas kesehatan.

Pemerintah Kabupaten Batang, lewat Wakil Bupati Suyono pada Rabu (23/9/2026), menyebut 276 orang diduga keracunan. Sementara itu, iNews melaporkan korban dengan keluhan mual hingga diare mencapai 411 orang hingga Kamis. Dari jumlah itu, 119 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan, 20 orang dirawat inap di Puskesmas Bawang, dan 272 orang rawat jalan.

Keluhan muncul pada sore hingga malam setelah siswa menyantap makanan sekitar pukul 11.00 WIB. Sebagian makanan sisa dibawa pulang siswa dan dimakan orang tua, yang kemudian juga mengalami mual dan pusing. Menu yang dibagikan Selasa (22/9/2026) dilaporkan terdiri atas nasi, telur, sayuran, tahu, dan buah anggur. Liputan6 menyebut telur bolognaise dan tahu mendoan, sedangkan iNews menulis telur saus asam manis dan tahu goreng.

Tanggapan pengelola dan pemerintah daerah

Yayasan Bela Batang Sejahtera, pengelola SPPG Bawang, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada warga dan penerima manfaat. Perwakilan yayasan, Tutut Wahyuningsih, mengeklaim pengolahan telah sesuai SOP dan bahan baku dipasok sehari sebelum penyiapan.

“Operasional dapur kami hentikan sementara untuk mendukung proses evaluasi menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, rantai distribusi, hingga keterlibatan relawan”

— Tutut Wahyuningsih, perwakilan Yayasan Bela Batang Sejahtera

Jumlah penerima manfaat yang dilayani dapur itu juga dilaporkan berbeda. Liputan6 menyebut sekitar 2.700 penerima manfaat setiap hari, sedangkan iNews menyebut 2.595. Dapur tersebut memasok 11 satuan pendidikan di Kecamatan Bawang. Wabup Suyono menegaskan angka itu adalah total penerima manfaat, bukan jumlah korban, dan Pemkab masih memverifikasi sebaran korban serta lembaga pendidikan yang terdampak.

Suyono menyatakan pemerintah tidak ingin menyimpulkan penyebab sebelum hasil laboratorium keluar. Pemerintah belum menunjuk menu tertentu, termasuk telur, sebagai sumber gangguan kesehatan.

“Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir”

— Suyono, Wakil Bupati Batang

Apa selanjutnya

Sampel makanan telah diambil melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya menjadi salah satu dasar penentuan sumber gangguan kesehatan dan langkah penanganan berikutnya.

Di sisi lain, Polres Batang masih mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi untuk mengusut pemicu keracunan massal tersebut.