Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan Ukraina bersedia melanjutkan perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat (AS), tetapi mendesak Washington menekan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu (17/10/2026), sehari setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan sejumlah sanksi dan tarif baru terhadap Rusia.

Zelensky: Tekanan Seharusnya ke Putin

Menurut Republika yang mengutip The Hill, Zelensky menulis di platform X bahwa jalur perundingan Amerika akan terus berlanjut. Ia berharap Washington memberi tekanan lebih besar kepada Putin, bukan kepada Ukraina.

“Jalur perundingan Amerika akan terus berlanjut. Kami berharap mereka memberikan tekanan lebih besar kepada Putin, bukan kepada kami. Jika tidak, hal itu sungguh tidak adil”

— Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina

Zelensky menyebut pihak Amerika telah memberi sinyal bahwa pertemuan dengan Ukraina dapat berlangsung pekan depan. Ia menegaskan Ukraina siap berunding di mana pun dan dalam format apa pun, tetapi menolak diplomasi yang menguntungkan Putin.

Menurut Tribunnews yang mengutip The Guardian, negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, bertemu utusan Presiden AS, Jared Kushner, pada Jumat. Zelensky menyebut AS sedang berusaha mengatur pertemuan tiga pihak antara dirinya, Trump, dan Putin. Lokasinya bisa di Timur Tengah, Eropa, atau AS, tetapi belum dipastikan.

Isi Perintah Eksekutif Trump

Republika melaporkan Trump menandatangani perintah eksekutif berjudul Implementing the Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026 pada Jumat (16/10/2026). Undang-undang itu disahkan pada September untuk memperbesar tekanan ekonomi terhadap Rusia dan pihak-pihak yang membantu perdagangan energinya.

Trump memakai kewenangan pengecualian dalam undang-undang tersebut dengan alasan kepentingan nasional AS. Ia menyatakan telah menyampaikan sertifikasi kepada Kongres. Financial Times melaporkan, sejumlah sanksi baru yang diwajibkan undang-undang itu tidak berlaku sesuai jadwal, ketika pemerintahan Trump berupaya menekan harga energi menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Keputusan itu tidak menghapus seluruh sanksi. Dokumen Gedung Putih mempertahankan sejumlah pembatasan sebelumnya yang diterapkan berdasarkan perintah eksekutif lain. Sebelumnya, Washington juga mengumumkan kesepakatan pasokan diesel Rusia untuk membantu menekan harga bahan bakar global.

Moskow Menyambut, Kyiv Khawatir

Dari Moskow, utusan khusus Putin untuk investasi dan kerja sama ekonomi internasional, Kirill Dmitriev, menyebut penangguhan itu momen penting dan bersejarah, seperti dikutip TASS. Ia menilai kebijakan tersebut membuka ruang hubungan ekonomi yang lebih konstruktif antara Rusia dan AS.

Zelensky punya penilaian berbeda. Dalam laporan Tribunnews, ia memperkirakan pencabutan sanksi akan berlanjut dan menyebut kesepakatan diesel sebagai langkah pertama. Ia juga menilai langkah itu tidak akan menghentikan Putin.

“Sayangnya, menurut saya ini tidak dapat menghentikan Putin; sebaliknya, ia merasa senang dan bahagia karena mendapat dukungan seperti itu”

— Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina

Zelensky juga meminta negara-negara Eropa mempertimbangkan bernegosiasi sendiri dengan Rusia.

Serangan Energi dan Soal Intelijen

Financial Times melaporkan Zelensky menyebut Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar terhadap sektor energi Ukraina. Menurutnya, lebih dari 15 fasilitas pembangkit dan transmisi listrik menjadi sasaran, dengan lebih dari 320 drone serta rudal jelajah dan balistik. Angka itu keterangan pemerintah Ukraina dan belum diverifikasi secara independen.

Financial Times, dengan mengutip pejabat Eropa, sebelumnya melaporkan bahwa pejabat AS menekan Ukraina agar berhenti menyerang kilang minyak Rusia, dengan mengaitkannya pada kemungkinan pembatasan dukungan intelijen dan pengadaan senjata. Laporan itu belum dikonfirmasi oleh sumber lain dalam bahan yang kami rujuk.

Trump membantah AS telah menghentikan pembagian intelijen kepada Ukraina, tetapi Zelensky mengkhawatirkan berkurangnya akses informasi untuk menghadapi serangan rudal dan drone. Reuters melaporkan memburuknya hubungan kedua presiden berpotensi mengancam dukungan penting AS bagi pertahanan Ukraina.