Paus Leo XIV menyerukan agar karya seni buatan manusia dapat dibedakan dari hasil karya mesin di era kecerdasan buatan (AI). Seruan itu ia sampaikan lewat unggahan di platform X pada Jumat (2/10), seperti dilaporkan VIVA dan ANTARA dari London.
Pernyataan singkat tersebut menyentuh isu yang kian sering diperdebatkan: apa yang membuat sebuah karya layak disebut seni manusia ketika mesin dapat menghasilkan karya. Tulisan ini menelaah isi pernyataan itu dan konteks yang tercantum dalam pemberitaan.
Isi pernyataan Paus Leo XIV soal seni dan AI
Dalam unggahannya, Paus menulis kalimat yang dikutip kedua media.
“Di era kecerdasan buatan ini, membedakan seni manusia dari hasil karya mesin kini menjadi sangat mendesak”
— Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik, lewat platform X
Menurut ANTARA, Paus menyoroti perbedaan ontologis antara seni dan hasil buatan mesin. Hasil mesin, dalam penggambarannya, lahir dari perhitungan statistik yang bertumpu pada jutaan gambar yang dibuat oleh orang lain. Dengan kata lain, perbedaannya bukan sekadar soal tampilan, melainkan soal hakikat bagaimana sebuah karya tercipta.
VIVA menambahkan bahwa kemajuan AI membuat perbedaan itu semakin sulit dikenali. Penjelasan tentang kesulitan membedakan tersebut muncul dalam laporan VIVA; unggahan Paus sendiri, sebagaimana dikutip, menekankan urgensi pembedaan itu.
Membaca istilah "ontologis" dan penekanan pada statistik
Kata "ontologis" merujuk pada persoalan hakikat, yakni apa sesungguhnya sebuah benda atau karya itu. Ketika Paus memakai istilah ini, ia tampaknya tidak sedang membahas mutu visual karya, melainkan asal-usul dan cara kerjanya. Ini tafsir atas pilihan kata yang dikutip, bukan penjelasan resmi dari Paus.
Penekanan pada perhitungan statistik dan jutaan gambar karya orang lain juga patut dicatat. Gambaran itu menempatkan hasil mesin sebagai keluaran dari pengolahan karya yang sudah ada, bukan sebagai ekspresi pengalaman. Sumber tidak menjelaskan lebih jauh apakah Paus menyinggung hak para pencipta asli gambar tersebut.
Algoritma dan soal sentuhan kemanusiaan
Paus juga menyampaikan penilaian yang lebih tegas tentang algoritma.
“Algoritma tidak memiliki sentuhan kemanusiaan”
— Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik
Kalimat ini menempatkan persoalan AI bukan hanya pada kemampuan teknis, tetapi pada dimensi kemanusiaan karya. Sumber yang tersedia tidak merinci karya, platform, atau kejadian tertentu yang menjadi pemicu unggahan tersebut, sehingga pernyataan itu sebaiknya dibaca sebagai sikap umum, bukan tanggapan atas kasus spesifik.
Konteks: seruan memperlambat dan mengatur AI
Kedua media mencatat bahwa serangkaian insiden belakangan ini memperlihatkan AI melampaui batas yang dianggap mungkin oleh banyak orang. Ditambah peringatan dari para pakar di bidang AI, hal itu memicu seruan agar perkembangan teknologi tersebut diperlambat dan diatur lebih ketat. Laporan tidak menyebut insiden mana yang dimaksud.
Baca jugaFTC Selidiki Praktik Keamanan AI di Anthropic dan OpenAI, Cakupan Belum Jelas
Pernyataan Paus dengan demikian masuk ke dalam percakapan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat dan pembuat kebijakan menyikapi AI. Pernyataan itu tidak memuat usulan regulasi tertentu menurut sumber yang ada; fokusnya pada pembedaan karya manusia dan mesin.
Rangkaian sikap Paus tentang kecerdasan buatan
Unggahan Jumat bukan kali pertama Paus berbicara soal AI. Pada September lalu, ia mengatakan bahwa kecerdasan buatan harus menjunjung tinggi martabat manusia, memperkuat perdamaian, serta berlandaskan pada kebijaksanaan dan kepedulian terhadap sesama.
Bila dua pernyataan itu dibaca berdampingan, tampak benang merahnya: ukuran teknologi, bagi Paus, adalah martabat dan kepedulian manusia. Pernyataan September berbicara tentang arah penggunaan AI, sedangkan unggahan terbaru menyoroti ranah seni dan keaslian karya.
Dua laporan, satu inti
VIVA dan ANTARA memuat inti yang sama: kutipan Paus, penekanan pada perbedaan ontologis, serta konteks seruan pengaturan AI. Perbedaannya terletak pada pembingkaian. VIVA menulis bahwa Paus mencemaskan algoritma dan perkembangan AI, sementara ANTARA memakai kata "desak" untuk seruan pembedaan karya.
Kata "cemas" di judul VIVA adalah rumusan redaksi. Dalam kutipan yang tersedia, Paus sendiri tidak memakai kata itu; ia berbicara tentang urgensi dan ketiadaan sentuhan kemanusiaan pada algoritma. Pembaca perlu membedakan kutipan langsung dari rangkuman media.
Apa yang perlu dicermati ke depan
Seruan pembedaan karya manusia dan mesin memunculkan pertanyaan praktis yang belum dijawab dalam sumber: siapa yang berwenang menandai suatu karya, dan dengan cara apa. Pertanyaan itu terbuka dan menjadi bagian dari perdebatan soal pengaturan AI yang disebut dalam laporan.
Kedua sumber hanya memuat seruan agar perkembangan AI diperlambat dan diatur lebih ketat, tanpa merinci pihak yang menyerukan, bentuk aturannya, atau tanggapan dari pelaku industri seni maupun pengembang AI. Perkembangan lanjutan belum diberitakan.
Untuk saat ini, yang pasti dari sumber hanyalah isi unggahan Paus, rujukannya pada pernyataan September, dan konteks seruan pengetatan aturan. Langkah konkret apa pun yang mungkin menyusul belum diberitakan, dan pembaca sebaiknya menunggu keterangan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.



