Jumlah kasus terkonfirmasi Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo mencapai 8.116, bertambah lebih dari 2.000 kasus dibandingkan catatan 1 September. Data itu disampaikan Lembaga Kesehatan Masyarakat Nasional (INSP) RD Kongo dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ANTARA.
Angka kasus dan kematian terbaru
Menurut ANTARA, INSP menyampaikan pernyataan itu pada Selasa (28/9). Lembaga tersebut menyebut penambahan harian berupa 49 kasus baru dan 23 kematian, sementara 18 pasien dinyatakan sembuh. Sejak wabah merebak, total korban meninggal mencapai 3.924 orang.
Sebagai pembanding, pada 1 September INSP mencatat 6.100 kasus terkonfirmasi dan 2.950 kematian.
Angka yang sedikit berbeda dimuat Okezone News dan Jurnas.com, yang merujuk laporan pemerintah RD Kongo dengan 8.067 kasus dan 3.901 kematian, atau tingkat kematian 48,4 persen. Jurnas.com menyebut data itu sebagai pembaruan Kementerian Kesehatan pada Senin (28/9), sedangkan Okezone News menyebut laporan lembaga kesehatan masyarakat diterbitkan Senin (29/9/2026). Sumber tidak menjelaskan penyebab selisih angka maupun perbedaan tanggal tersebut.
Sebaran wilayah dan pelacakan kontak
Menurut Kementerian Kesehatan RD Kongo, sebagaimana dikutip Jurnas.com, wabah berdampak pada 63 zona kesehatan di tujuh provinsi: Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, Bas-Uele, Tshopo, dan South-Ubangi. Ituri menjadi pusat utama dengan 76,4 persen dari seluruh kasus kumulatif.
Kementerian juga melaporkan sebagian besar kematian baru terkonfirmasi terjadi di tengah masyarakat, bukan di pusat perawatan, terutama di Ituri dan North Kivu. Salah satu penyebabnya adalah kendala mendeteksi kasus tepat waktu.
Dalam pembaruan yang sama, tingkat pelacakan kontak disebut turun menjadi 79,2 persen dari sebelumnya 83,4 persen. Penularan masih bertahan di Haut-Uele dan kembali tercatat di Provinsi Tshopo.
Tantangan penanganan dan risiko lintas batas
Africa CDC menyebut jumlah kasus sempat naik tajam lalu mendatar, tetapi tetap menilai wabah ini belum terkendali, demikian dilaporkan Okezone News. Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, sebelumnya menyatakan virus ini menjadi ancaman bagi negara tetangga RD Kongo. Menurut badan itu, dana sedikitnya 2,9 miliar dolar AS sudah dikerahkan untuk penanganan Ebola di kawasan Afrika.
WHO sebelumnya memperingatkan bahwa meluasnya wilayah terdampak meningkatkan risiko penyebaran lintas batas. Organisasi itu juga menyoroti naiknya rasio kematian dan bertambahnya pasien yang meninggal di komunitas.
Wabah ini ditetapkan secara resmi pada 15 Mei dan menjadi yang ke-17 di RD Kongo. Okezone News menyebutnya wabah terburuk dalam sejarah negara itu. Galur yang beredar adalah Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin maupun obat yang disetujui. Sejumlah pengobatan dan vaksin kini diuji coba.
Para ahli, menurut Okezone News, menyebut infrastruktur kesehatan lemah, lokasi terpencil, dan konflik di dekat perbatasan dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda menghambat penanganan. Okezone News juga menyebut ketidakpercayaan dan kemarahan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah sebagai hambatan utama dalam membatasi penyebaran wabah.
Dalam laporan yang sama, seorang perwakilan partai berkuasa UDPS menyatakan salah satu anggota seniornya meninggal di Butembo, Kivu Utara, pada hari Minggu setelah dipukuli, usai menyosialisasikan informasi wabah lewat radio. Pelaku dan motif peristiwa itu tidak dijelaskan dalam sumber, dan pernyataan tersebut belum terkonfirmasi pihak lain.



