Dua lembaga pemerintah menyampaikan informasi yang berbeda pada Kamis (24/9). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kendala operasi modifikasi cuaca di wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberi klarifikasi soal daratan baru di Gunung Anak Krakatau. Kedua kabar ini tidak saling berkaitan dan dirangkum terpisah di bawah.

BMKG: modifikasi cuaca di wilayah karhutla sulit

Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani mengatakan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah karhutla saat ini menghadapi tantangan. Ia menyampaikannya di Istana Negara, Jakarta. Penyebabnya, potensi awan konvektif cenderung rendah di tengah puncak musim kemarau.

“Sekarang untuk operasi modifikasi cuaca ini cukup sulit karena potensi awan konvektif itu sangat rendah di puncak-puncak musim kemarau ini, sehingga operasi modifikasi cuaca ini sangat situasional”

— Prof. Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG

Karena itu, pesawat yang disiapkan di sejumlah provinsi tidak hanya dipakai untuk OMC. Pesawat tersebut juga dimanfaatkan untuk patroli udara guna memantau potensi karhutla. Menurut Faisal, pesawat disiapkan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan di enam provinsi prioritas.

Apabila ditemukan potensi awan yang memungkinkan, pesawat yang sedang berpatroli dapat segera dialihkan untuk melaksanakan OMC.

Baca jugaBMKG Prakirakan Musim Hujan 2026/2027 Dimulai November, Mundur dari Normal, Berlangsung Pendek dan Intens

PVMBG: daratan baru di Anak Krakatau

Di Pandeglang, Banten, PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM memberi klarifikasi ilmiah tentang fenomena geologi di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Fenomena itu viral di media sosial, dan warganet menyebut daratan tersebut "Cucu Gunung Krakatau".

Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan, evaluasi sementara terhadap citra Satelit Sentinel menunjukkan area Gunung Api Anak Krakatau memang meluas. Perluasan itu terjadi akibat rangkaian erupsi menerus pada 4 hingga 6 September 2026. Endapan material piroklastik dan aliran lava kental yang keluar kemudian membeku menjadi daratan tambahan.

Menurut perhitungan Badan Geologi, luas Anak Krakatau kini bertambah hingga sekitar 32,8 hektare. Selain area utama yang meluas, citra satelit mendeteksi dua gumuk terpisah di sisi barat laut dan tenggara yang tampak seperti pulau kecil.

Rita menyebut material magma diduga keluar melalui jalur bukaan memanjang dari barat laut ke tenggara, lalu membeku. Ia menekankan bahwa temuan ini masih berupa interpretasi citra satelit.

“Namun, ini masih berupa interpretasi citra satelit dan perlu verifikasi langsung ke lapangan untuk memastikan apakah daratan ini permanen atau tidak.”

— Rita Susilawati, Kepala PVMBG Badan Geologi

Baca jugaDaratan Baru di Sekitar Anak Krakatau: Bagaimana Terbentuk, Bertahan, atau Hilang Lagi

Dua informasi, dua lembaga

Pernyataan BMKG bersumber dari keterangan Kepala BMKG di Istana Negara, sedangkan penjelasan soal Anak Krakatau berasal dari klarifikasi PVMBG. Keduanya menyangkut kondisi alam, tetapi berbeda lembaga, topik, dan lokasi. Dalam kedua kasus, pelaksanaan di lapangan masih bergantung pada kondisi: OMC menunggu adanya awan yang memadai, sedangkan status daratan baru di Anak Krakatau menunggu verifikasi langsung.