Kapal yang membawa migran dari Djibouti menuju Yaman terbalik di lepas pantai Djibouti, menewaskan 139 orang dan menyebabkan 84 lainnya hilang. Angka itu diumumkan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Minggu (11/10/2026).
Peristiwa terjadi pada malam antara Kamis (8/10) dan Jumat (9/10). Menurut laporan AFP yang dikutip detikNews, lokasinya berada di sebelah utara kota Obock.
Kronologi dan jumlah korban kapal migran
AFP menyebut kapal yang kelebihan muatan itu memuat 305 penumpang, mayoritas warga Ethiopia. Di antara yang meninggal ada 15 anak-anak. BBC, sebagaimana dikutip Metro TV News, menyebut jumlah penumpang sekitar 350 orang, sehingga angka penumpang belum seragam antarlaporan.
Pada laporan awal, IOM mencatat 109 korban tewas dan 116 orang hilang. Angka itu diperbarui menjadi 139 tewas dan 84 hilang setelah petugas menemukan lebih banyak jenazah.
Dalam pernyataan hari Jumat, IOM merinci komposisi jenazah yang ketika itu sudah ditemukan: 52 pria, 42 perempuan, sembilan anak perempuan, dan enam anak laki-laki. Rincian tersebut merujuk pada angka awal.
ANTARA, mengutip Xinhua, menyebut penyintas berjumlah lebih dari 80 orang dan seluruhnya berkewarganegaraan Ethiopia. IOM juga mengaku mendampingi 64 penyintas di pusat respons Obock, termasuk lewat layanan kesehatan serta dukungan agar mereka bisa kembali berhubungan dengan keluarga.
Tanggapan IOM dan otoritas Djibouti
Kepala misi IOM di Djibouti, Alexandre Coissac, menuturkan bahwa para penyintas bercerita kapal mulai tenggelam dari buritan sesaat setelah mereka naik. Ia juga mengaku telah berbincang dengan seorang penyintas asal wilayah Tigray di Ethiopia utara.
“Tragedi ini menjadi pengingat nyata akan bahaya yang dihadapi para migran di sepanjang koridor migrasi ini saat mereka berupaya mencari peluang ekonomi.”
— Alexandre Coissac, kepala misi IOM di Djibouti
Petugas IOM hadir di lokasi dan bekerja dengan pihak berwenang Djibouti untuk menyalurkan pertolongan darurat. Menurut IOM, otoritas Djibouti masih mencari dan menyelamatkan korban, merawat penyintas secara medis, serta menyiapkan pemakaman bagi korban meninggal.
Rute migrasi berbahaya melintasi Selat Bab al-Mandeb
Para migran berusaha menyeberangi Selat Bab al-Mandeb ke Yaman, lalu meneruskan perjalanan ke negara-negara Teluk. ANTARA menyebut Arab Saudi, negara di utara Yaman, sebagai tujuan akhir utama mereka. Yaman sendiri dilanda perang, yang menurut Metro TV News sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
Menurut IOM, setiap tahun puluhan ribu migran dari Tanduk Afrika menempuh jalur ini demi keamanan dan pekerjaan. Kemiskinan, ketidakamanan, dan dampak perubahan iklim disebut menjadi pendorongnya.
Displacement Tracking Matrix milik IOM mencatat lebih dari 20.000 pergerakan migran dari Ethiopia ke Djibouti sejak 10 September. Data IOM untuk 2025 menunjukkan lebih dari 900 migran meninggal atau hilang di rute itu, sedangkan jumlah orang yang melakukan perjalanan naik 18 persen.
Pada Maret 2026, kejadian serupa menelan sembilan korban jiwa dan membuat 45 orang hilang, menurut Metro TV News. Operasi pencarian korban hilang dalam kecelakaan terbaru ini masih berlanjut.



