Raja Maroko Mohammed VI menunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai perdana menteri pada Selasa (29/9/2026). Penunjukan itu menjadikan perempuan berusia 50 tahun tersebut sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Maroko.

Pernyataan resmi istana menyebut El Mansouri ditugaskan membentuk pemerintahan baru. Menurut Okezone yang mengutip AP, pengumuman itu datang empat hari setelah hasil pemilihan parlemen diumumkan.

Partai pemenang pemilu parlemen

El Mansouri memimpin Partai Otentisitas dan Modernitas (PAM) yang berhaluan tengah. Partai itu meraih suara terbanyak dalam pemilu parlemen pekan lalu, sebagaimana dilaporkan Republika dan Okezone.

Konstitusi Maroko memberi raja kewenangan menunjuk perdana menteri. Namun, jabatan itu harus diisi tokoh dari partai yang memperoleh kursi terbanyak di parlemen.

Sistem pemilihan di Maroko membuat satu partai sulit meraih mayoritas mutlak. Karena itu, El Mansouri diperkirakan membangun koalisi dalam beberapa hari mendatang.

Tanggapan El Mansouri

Menurut CNN Indonesia yang mengutip Al Jazeera, El Mansouri menyebut penunjukan ini sebagai momen bersejarah.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara kita, seorang perempuan mengemban tanggung jawab memimpin pemerintahan”

— Fatima Ezzahra El Mansouri, perdana menteri Maroko yang ditunjuk

Dalam konferensi pers kemenangan sebelum pengumuman, ia sempat ditanya soal kemungkinan perubahan untuk mengakomodasinya dalam upacara keagamaan Muslim yang dihadiri raja. Republika melaporkan ia tidak langsung menjawab dan menyebut raja sebagai advokat terbesar bagi perempuan di negara itu.

Profil dan rekam jejak politik

El Mansouri seorang pengacara yang lahir di Marrakesh pada 1976. CNN Indonesia menyebut ia belajar hukum dan meraih diploma lanjutan di Universitas Montpellier, Prancis. Republika menyebut ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Mohammed V, Rabat, lalu melanjutkan ke Prancis dan Amerika Serikat dengan spesialisasi hukum bisnis dan perusahaan.

Ia menjadi wali kota perempuan pertama Marrakesh pada 2009 dan kembali memimpin dewan kota setelah pemilu 2021. Ia juga beberapa periode berturut-turut menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Pada Oktober 2021, ia masuk pemerintahan nasional sebagai menteri yang membidangi tata ruang, pembangunan perkotaan, dan perumahan. Ia menjadi perempuan kedua yang menjabat perdana menteri di dunia Arab setelah Najla Bouden di Tunisia, yang menjabat dari Oktober 2021 hingga Agustus 2023.

Agenda pemerintahan yang menanti

Menurut Okezone, pemerintahan baru diharapkan melakukan investasi miliaran dolar terkait Piala Dunia FIFA 2030. Pemerintah juga akan berupaya memenuhi janji, termasuk memerangi inflasi, menaikkan upah, dan menciptakan lapangan kerja.