Sejumlah warga terdampak kebakaran di Jalan Teuku Nyak Arif, RT 05/01, Kebayoran Lama Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menyatakan setuju mengikuti program renovasi rumah yang ditawarkan pemerintah. Kesediaan itu disampaikan salah satu warga bernama Warinah saat ditemui di tenda pengungsian di Jalan Mesjid Al-Huda, dekat Stasiun Kebayoran, Rabu (23/9/2026), menurut catatan ANTARA. Kebakaran yang terjadi Selasa (22/9) malam itu menghanguskan 18 rumah dan empat tempat usaha, dengan jumlah warga terdampak yang sempat berbeda antar-pejabat Gulkarmat, yakni sekitar 150 hingga 180 jiwa, sementara kerugian ditaksir mencapai Rp1,2 miliar menurut Kepala Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan Asril Rizal.
Warga Setuju Direnovasi, Sebagian Masih Pertimbangkan Mengontrak
Warinah, perempuan asal Brebes, mengaku kini sudah memegang KTP dan Kartu Keluarga (KK) Jakarta sehingga berharap proses renovasi maupun relokasi dapat berjalan lancar. Meski begitu, ia masih menanti keputusan keluarganya soal pilihan tetap mengontrak di Jakarta atau kembali ke kampung halaman.
“Kalau dibangun lagi semua, kita tinggal lagi di situ, kalau misalnya disaranin ke mana, ya kita ikutin aja,”
— Warinah, warga terdampak kebakaran Kebayoran Lama
“Saya mau ikut anak ini yang bisa, mau ngontrakin, apa mau disuruh di kampung,”
— Warinah, warga terdampak kebakaran Kebayoran Lama
Andan Masih Cari Tempat Tinggal Pengganti
Warga lain, Andan, bersama istrinya mengaku belum mengetahui sampai kapan akan tinggal di tenda pengungsian karena masih mencari tempat tinggal pengganti. Sebagai pedagang aksesori ponsel, ia mengaku mengalami kesulitan ekonomi sebab tidak ada barang berharga yang sempat diselamatkan saat kebakaran terjadi.
“Kalau ada rencana mah, ya, kita pengen pindah, ya, nyari-nyari tempat tinggal, kalau ada bantuan, ada uang gitu. Cuman kita-kita semuanya hangus terbakar, tidak ada uang. Kita hanya makan seadanya,”
— Andan, warga terdampak kebakaran Kebayoran Lama
Jika pemerintah menawarkan rumah susun, Andan mengaku masih perlu mempertimbangkan jarak tempuh ke SDN 01 Kebayoran Lama Utara, sekolah kedua anaknya.
“Kalau untuk tempatnya, untuk kerja sih masih mikirkan, kalau misalnya rusun. Gimana persetujuannya aja, ya, gitu kan. Apalagi, kan istilahnya, kalau jauh dari sekolahan anak-anak, kan agak-agak kasihan, memburu waktu apa gimana gitu kan,”
— Andan, warga terdampak kebakaran Kebayoran Lama
Baca jugaKebakaran Kebayoran Lama: Data Korban Simpang Siur, Gulkarmat Sebut 150 Jiwa, Ops 180 Jiwa
Kesaksian Detik-detik Api Membesar
Kepada detikNews, Warinah menceritakan ia sedang berbaring menunggu waktu Isya bersama dua anak dan cucunya ketika mendengar teriakan warga dari arah jalan dekat lampu merah yang menandakan ada kebakaran. Ia segera keluar rumah tanpa sempat membawa barang apa pun setelah melihat kobaran api sudah membesar tepat di atas tempat tinggalnya.
“Pas keluar, lho kok di atas, api gede banget. Ya di atas persis kontrakan saya, ya. Di atas itu udah gede banget,”
— Warinah, warga terdampak kebakaran Kebayoran Lama
Warinah mengatakan tiga baris rumah di kawasan itu ludes terbakar. Ia mengaku hanya berupaya menyelamatkan diri dan keluarganya, sementara dokumen kependudukan seperti KTP dan KK diurus belakangan di lokasi pengungsian.
Pemerintah Data Legalitas Kependudukan Warga
Camat Kebayoran Lama Mustopa menyatakan pemerintah telah menyalurkan bantuan sekaligus mendata korban terdampak. Ia menyebut penanganan dokumen kependudukan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas saat ini, disertai bantuan makanan harian serta pendampingan sosial dan psikologis.
“Sementara ini bantuan-bantuan kita data. Kita data dulu legalitas kependudukan mereka. Kita bantu, kalau ada yang kebakar dari Dukcapil, surat-suratnya kita akan diganti,”
— Mustopa, Camat Kebayoran Lama
Latar Belakang Kebakaran dan Data yang Sempat Berbeda
Kebakaran dilaporkan warga melalui saluran telepon darurat pada pukul 20.31 WIB, Selasa (22/9), saat api sudah membesar. Sebanyak 24 unit mobil pemadam kebakaran dan 128 personel Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan dikerahkan hingga api dilokalisasi pukul 21.20 WIB dan seluruh proses pemadaman tuntas pada pukul 24.00 WIB, menurut Kepala Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan Asril Rizal.
Sempat muncul perbedaan data antara pejabat Gulkarmat mengenai jumlah warga terdampak, yakni 150 jiwa menurut Asril Rizal dan 180 jiwa atau 60 kepala keluarga menurut Kasi Ops Gulkarmat Jakarta Selatan Sjukri. Keduanya juga menyebut versi berbeda soal asal api, yaitu dugaan korsleting listrik di salah satu rumah menurut Asril, atau berawal dari warteg yang menjalar ke bengkel ban menurut Sjukri. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

