Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyatakan gempa di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (7/10/2026) pukul 03.15 WIB berasal dari deformasi di dalam lempeng Australia yang menunjam. Menurut dia, gempa itu bukan hasil pergeseran sesar aktif dangkal di daratan Lombok.

Penjelasan IABI soal sumber gempa

Dalam keterangan di Jakarta, Daryono menyebut gempa tektonik bermagnitudo 5,0 itu terjadi pada kedalaman 82 kilometer. Pemicunya adalah patahan sesar turun (normal fault) di dalam tubuh lempeng samudra yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali.

“Gempa ini bukan gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di Pulau Lombok, melainkan gempa intraslab di mana sumbernya berada di dalam Lempeng Australia yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali”

— Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)

Daryono menjelaskan, tegangan yang menumpuk pada lempeng yang menunjam akhirnya melampaui daya tahan batuan. Kondisi itu memicu patahan internal dan melepaskan gelombang seismik yang menyebar luas.

Gempa susulan dan potensi kerusakan

Menurut Daryono, gempa intraslab cenderung menghasilkan gempa susulan lebih sedikit dibanding gempa kerak dangkal. Penyebabnya, proses ruptur berlangsung pada tekanan dan suhu tinggi di kedalaman bumi.

Ia juga mengingatkan bahwa gempa intraslab perlu diperhatikan. Bila magnitudonya cukup besar, guncangannya dapat merusak walau hiposenternya relatif dalam. Contohnya gempa Jawa Timur bermagnitudo 6,1 pada 10 April 2021 yang berpusat di Samudra Hindia selatan Malang dan merusak ribuan bangunan di sejumlah kabupaten/kota.

“Sumbernya boleh jauh di kedalaman, tetapi gelombang gempanya dapat menjangkau wilayah yang sangat luas dan tetap patut diwaspadai”

— Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)

Daryono menambahkan, peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman gempa di Indonesia perlu dipahami secara tiga dimensi. Menurut dia, ancaman itu tidak hanya datang dari sesar aktif di permukaan atau zona megathrust.

Sebaran guncangan dan perbedaan angka

Estimasi peta guncangan BMKG mencatat intensitas IV-V MMI di Mataram dan III-IV MMI di Lombok Tengah. Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Sumbawa mencatat III MMI, sedangkan Kuta dan Denpasar, Bali, II-III MMI.

CNBC Indonesia memuat angka berbeda dari keterangan IABI. Media itu mengutip informasi BMKG dengan magnitudo 5,2, kedalaman 92 kilometer, dan pusat gempa 9 kilometer di tenggara Lombok Barat, pada pukul 03.15.26 WIB. CNBC Indonesia juga menulis intensitas II MMI di Denpasar, sedangkan peta guncangan yang dikutip ANTARA menyebut II-III MMI untuk Kuta dan Denpasar.

Dua sumber yang dirujuk dalam naskah ini, ANTARA dan CNBC Indonesia, tidak memuat data kerusakan bangunan atau korban. Informasi dampak di lapangan perlu menunggu keterangan resmi otoritas terkait.