Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal balistik dari wilayah Pyongyang ke arah Laut Jepang pada Senin pagi, 12 Oktober 2026. Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran itu sekitar pukul 09.20 waktu setempat.
Metro TV News memuat tanggal berbeda, yakni Minggu, 11 Oktober 2026, sedangkan CNBC Indonesia dan Tribunnews menyebut Senin. Waktu peluncuran yang dilaporkan sama, yaitu sekitar pukul 09.20.
Apa yang terjadi dalam peluncuran rudal Korea Utara
Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menyatakan beberapa rudal terbang lebih dari 900 kilometer. Laut Jepang disebut Laut Timur oleh Korea Selatan.
“Militer kami telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya peluncuran tambahan”
— Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan
Menurut CNBC Indonesia yang mengutip AFP, pemerintah Korea Utara mengonfirmasi uji coba "rudal balistik taktis". Kantor berita resmi KCNA menyebut uji coba itu untuk memastikan keberhasilan penelitian peningkatan teknis pada elemen inti yang penting.
Militer AS di kawasan Pasifik menyebut Korea Utara meluncurkan dua rudal balistik. Menurut pernyataan itu, peluncuran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi personel maupun wilayah AS dan sekutunya.
Tanggapan Jepang dan Korea Selatan
Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi peluncuran setidaknya satu rudal yang diduga rudal balistik Korea Utara. Tokyo menyatakan dua rudal kemungkinan jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang.
Wakil Menteri Pertahanan Parlemen Jepang, Takashi Koyari, mengatakan Jepang telah memprotes lewat saluran diplomatik dan mengecam keras peluncuran yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Ia menyebut rudal kedua diperkirakan mencapai ketinggian maksimum 70 km dan menempuh lebih dari 910 km, dan pihaknya masih menganalisis apakah lintasannya tidak lazim.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menginstruksikan instansi pemerintah mengumpulkan dan menganalisis informasi sebanyak mungkin. Ia juga meminta informasi disampaikan cepat dan akurat kepada publik, serta keselamatan navigasi laut dan udara dipastikan.
Juru bicara JCS, Jang Do-young, mengatakan analisis awal memandang peluncuran itu sebagai protes atas keberhasilan uji coba kendaraan luncur hipersonik (HGV) Korea Selatan. Menurut dia, peluncuran juga menjadi unjuk pencapaian Korea Utara dalam rencana lima tahunnya. Ketika ditanya apakah rudal itu hipersonik atau jarak menengah, ia menolak berkomentar karena militer masih menganalisis.
Latar ketegangan di Semenanjung Korea
Korea Utara sebelumnya menembakkan rudal balistik pada 3 Oktober. Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, menyebut rudal itu memakai teknologi kecerdasan buatan dan mampu mengubah lintasan terbang pada ketinggian rendah.
Beberapa hari kemudian, Korea Selatan mengumumkan uji coba HGV buatan dalam negeri. Kantor kepresidenan Seoul menyebutnya kemampuan pencegahan baru.
Ketegangan juga dipicu ledakan ranjau darat di perbatasan yang melukai tiga tentara Korea Selatan. Investigasi bersama Korea Selatan dan PBB, menurut Metro TV News, menduga ranjau ditanam Korea Utara lebih dari setahun sebelumnya, tetapi Pyongyang membantahnya.
Secara teknis kedua Korea masih berstatus perang karena konflik pada 1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. CNBC Indonesia juga menyebut pendekatan Presiden AS Donald Trump terhadap Pyongyang memicu kekhawatiran Seoul dikesampingkan dalam potensi perundingan nuklir.



