Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,59 persen ke level 5.936,14 pada perdagangan Senin (12/10/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Sejumlah analis memperkirakan tekanan jual masih berlanjut pada Selasa (13/10).
IHSG turun di bawah 6.000, seluruh sektor melemah
Indeks berakhir melemah 157,61 poin dan kini berada di bawah level psikologis 6.000. Menurut Tribunnews, seluruh sektor saham ditutup melemah. Berdasarkan data RTI yang dikutip media itu, sektor energi turun paling dalam, yakni 5,88 persen, diikuti perindustrian 5,20 persen, infrastruktur 4,72 persen, transportasi 3,44 persen, dan barang baku 2,96 persen.
Dari sisi jumlah emiten, 602 saham ditutup melemah, 114 saham menguat, dan 77 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp13,49 triliun dengan 61,92 miliar saham diperdagangkan menurut Tribunnews. CNN Indonesia, yang mengutip RTI Infokom, mencatat angka sedikit berbeda, yakni Rp13,66 triliun dan 62,14 miliar saham.
Faktor yang membayangi pasar saham
Phintraco Sekuritas mengaitkan tekanan pasar dengan situasi global yang sulit diprediksi. Brent masih di atas 100 dolar AS per barel. Investor juga mencermati kekhawatiran dana asing keluar dari obligasi Indonesia dan isu evaluasi indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Situasi geopolitik, terutama meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, juga membayangi sentimen. Investor pun menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk September.
Baca jugaIRGC Klaim Serang Supertanker yang Coba Lewati Selat Hormuz, Iran Tegaskan Selat Tetap Tertutup
Katadata melaporkan konsensus inflasi tahunan AS diperkirakan naik menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus, dengan data indeks harga konsumen dirilis Rabu (14/10). Bila hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS bisa menguat sehingga rupiah dan aliran dana asing ke pasar dalam negeri kian tertekan.
Proyeksi analis: support 5.850–5.900
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG menguji area support 5.800–5.900 pada Selasa. Secara teknikal, histogram negatif MACD yang melebar dan pola death cross pada Stochastic RSI menunjukkan tekanan jual masih terlihat.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan support berada di 5.850–5.900, dengan resistance terdekat di kisaran 6.000–6.019. Tim riset BRI Danareksa juga menyebut pola rising wedge dan head and shoulders mengindikasikan tekanan bearish.
“Fokus berikutnya adalah mempertahankan support 5.850–5.900; jika zona ini ditembus, risiko pelemahan lanjutan meningkat”
— Tim riset BRI Danareksa
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih rawan melanjutkan koreksi jangka pendek ke rentang 5.850–5.911. Ia memproyeksikan support di 5.887 dan 5.744, serta resistance di 6.216 dan 6.296.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova memandang indeks mulai mendekati target koreksi di 5.850. Menurut dia, setelah level itu tersentuh, IHSG berpeluang rebound untuk memulai pemulihan jangka pendek. Ia menyebut support di 5.850, 5.768, dan 5.607.
Masing-masing analis merekomendasikan saham berbeda. Herditya menyebut BRMS, JPFA, MBMA, ANTM, dan XISI. Untuk Ivan, CNN Indonesia mencatat BBRI, MBMA, dan TLKM, sedangkan Katadata memuat daftar lebih lengkap, yakni ADMR, BBCA, BBRI, MBMA, dan TLKM. Redaksi menegaskan proyeksi ini bukan ajakan membeli atau menjual saham, dan keputusan investasi ada pada investor.


